Saturday, August 28, 2010

**ANTARA JIWA DAN JASAD**

 

catatan ini umi ambil dari..
FB al ukhuwah al ishlah on Friday, August 27, 2010 at 7:01pm
Kejadian ketika Allah mengambil kesaksian dan sumpah dari setiap jiwa memberikan informasi kepada kita, bahwa pada hakikatnya, manusia adalah makhluk spiritual.

Kemudian, setelah kesaksian setiap jiwa di alam ruh/jiwa itu, maka Allah melalui mekanisme alam rahiim, memberikan setiap jiwa itu jasad. Jasad manusia pada hakikatnya adalah berasal dari bumi, dari sebagian zat yang ada pada tanah, sari pati tanah. Banyak sekali hal yang menyatakan tentang ini bisa kita temukan di dalam Al Qur’an.

Dan ilmu pengetahuan modern-pun telah membenarkan bahwa jasad manusia adalah satu bentuk material yang berasal dari sari pati tanah. Sedangkan jiwa adalah sesuatu yang berasal, kita sebut saja, ia berasal dari langit karena jiwa substansinya bukan berasal dari bumi...

Jiwa tidak pernah berhenti berkeinginan karena tua, tetapi karena keterbatasan jasad yang ia gunakan di dunia saja, yang membuat dirinya seakan-akan menjadi tua dan membatasi keinginan yang bermacam-macam.

Tetapi, jika kita renungkan, pada hakikatnya, jiwa tidak pernah berhenti untuk berkeinginan. Hal ini sebagaimana pernah disampaikan oleh Rasullulllah SAW, bahwa anak adam, seandainya ia telah memiliki gunung emas (kekayaan yang banyak) dirinya tidak akan pernah berhenti untuk menginginkan hal itu sampai tanahlah yang akan mengisi perutnya (kematian).

Pada realitas kehidupan kita, kita sering melihat orang yang sudah ‘berumur’, tetapi masih memiliki semangat, kemauan, keinginan, bahkan gairah ‘seakan-akan’ mereka lupa akan usia mereka.

Inilah jiwa, yang sesungguhnya ia adalah bagian dari diri manusia yang abadi. Jiwa tidak pernah mati, bahkan ia akan hidup abadi. Dalam proses keabadiannya, jiwa mengalami satu fase ujian yang harus ia lewati, yaitu kehidupan di bumi , dan untuk melakukan hal itu setiap jiwa harus hidup ‘terkurung’ dan tergantung dalam materi yang mengikatnya, yaitu jasad.

Setiap jiwa, hanya hidup sesaat di bumi, hidup sementara bersama jasadnya yang semakin hari semakin bertambah tua, yang kemudian jasad yang digunakannya itu akan kembali lagi pada bentuk semula, yaitu tanah. Dan ketika jasad yang ia gunakan telah kembali menjadi tanah, maka jiwa setiap manusia akan mengalami fase kehidupan selanjutnya. 

Kita semua tahu, kalau saja jasad tidak diberi makan dan minum selama satu hari apa yang akan terjadi..? bagaimana jika 2 hari, 3 hari, atau 8 hari ?. Tentunya, kita semua sudah tahu jawabannya.

Para dokter mengatakan rata-rata, manusia akan kuat untuk bertahan hidup dengan tidak makan dan minum adalah hanya 5 hari saja. Maka lebih dari itu, hampir jarang ditemukan manusia yang masih dalam keadaan hidup.

Itulah jasad, setidaknya, jika ia masih hidup, pastilah jasadnya akan diketemukan dalam keadaan lemah, dan boleh jadi, tubuhnya rentan terkena penyakit, karena sistem pertahanan tubuhnya sudah tidak berfungsi dengan baik. Tentunya, kesadaran akan pentingnya makanan bagi jasad sudah merupakan satu hal yang menjadi pengetahuan umum, bahkan tidak perlu seseorang itu memperlajari teorinya secara alamiah, ia sudah melakukan hal ini.

Hanya saja, yang dapat menggangu kesehatan jasadnya biasanya hanya tergantung dari pola makan, dan jenis makanan yang ia konsumsi. Itulah jasad. Orang yang menyadari pentingya makanan untuk jasad, maka ia akan senantiasa berusaha untuk mencari makanan untuk kelangsungan hidup jasadnya.

Setidaknya ada beberapa tingkatan dalam jasad manusia,

pertama ia dalam keadaan lemah,
kedua, ia dalam keadaan sakit, lalu kurang sehat,
ketiga dalam keadaan sehat, dan bugar, dan sangat sehat atau bersemangat.

Jasad manusia senantiasa berada di antara kondisi-konsidi tersebut. Dan ketika seseorang menyadari pentingnya kondisi tersebut, tentunya ia akan melakukan sesuatu agar ia dapat mencapai kondisi tersebut. Jika ia dalam keadaan sakit, maka ia akan berobat.

Demikian pula dengan jiwa setiap manusia. Jiwa juga memerlukan ‘makanan’.

Jika makanan untuk jasad ini adalah segala sesuatu yang berasal dari bumi, maka jiwa memerlukan ‘makanan’ yang berasal dari tempat jiwa itu berasal, yaitu dari langit.

Allah sebagai pencipta manusia, telah juga menyediakan ‘makanan’ bagi jiwa itu, yaitu dengan memberikan petunjuk agar manusia menjaga jiwa mereka dengan melakukan ritual, seperti yang dinyatakan dalam rukun iman dan islam.

Melakukan berbagai perintah anjuran, dan larangan yang terkadang tidak dapat dipahami oleh jasad. Dalam beberapa ayatnya Al Qur’an menyatakan bahwa, bukan jasadnya yang mengalami kerusakan, tetapi jiwalah yang mengalami kerusakan.

Seperti pada ayat yang secara makna menyatakan, bukan mata mereka yang buta, atau telinga mereka yang tuli, atau seperti pada ayat mereka memiliki mata dan telinga, tetapi mereka tidak bisa melihat dan tidak bisa mendengar.

Dan disampaikan juga oleh Rasulullah, bahwa kedudukan hati  memiliki kedudukan yang sangat tinggi, jika hati seseorang itu baik, maka baiklah seluruh manusia itu.

Jasad seseorang, dapat berada pada kondisi lemah, sakit, kurang sehat, sehat dan bugar. Tentunya, ketika jasad untuk mencapai kondisi bugar perlu berbagai latihan dan juga makanan tambahan. Memang jasad tidak akan mati, jika ia hanya memakan makanan pokok saja,  

Dan, hal ini tidak ubahnya dengan jiwa, jiwa juga memerlukan suplemen dalam kontes ritual, jiwa juga memerlukan banyak sekali amal tambahan agar ia menjadi bugar.

Ritual yang diwajibkan oleh Allah seperti shalat lima waktu dalam konteks pembahasan ini kita katakan sebagai makanan pokok saja. Yang dengan itu, jiwa manusia tidak akan pernah mati, tetapi, akan jauh lebih baik lagi kondisi jiwa seseorang itu apabila ia juga ‘memakan suplemen’ makanan jiwa yang lain dengan memperbanyak perbuatan yang di sunnahkan oleh Rasulullah.

Maka jika ia melakukan hal itu, tentunya hal itu hanya akan membawa kebaikan untuk kesehatan jiwa yang melakukannya. Kesehatan jiwa, sangat berhubungan erat dengan kesehatan jasad. Inilah hubungan yang masih menjadi pertanyaan besar bagi para peneliti di dunia kedokteran. Hampir semua penyakit yang di derita oleh manusia, kecuali yang sifatnya fisik, itu disebabkan karena kondisi kejiwaan. Atau dengan isitlah populer, kita kenal dengan kata ‘stress’.

Yang kemudian akan menghasilkan tindakan emosional yang tidak sehat, dan memicu berbagai penyakit yang kita kenal dengan kanker, stroke, serangan jantung, dan lain sebagainya. Dalam dunia kedokteran, metode placebo (memberikan keyakinan pada jiwa sang pasien) adalah hal yang sangat efekif untuk penyembuhan penyakit.

Dan pada faktanya, obat yang di konsumsi oleh pasien, ternyata efektifitasnya hanya sekitar 25%-30%. Juga melalui fakta tersebut, ada yang berpendapat bahwa, ketika seseorang mengalami ganguan kesehatan, maka sesungguhnya 60% yang ia alami adalah gangguan kejiwaan. Melalui fakta-fakta tersebut, dunia penyembuhan saat ini, tidak bisa tidak harus mencari satu terapi alternatif bagi sang pasien yang menderita satu penyakit, yaitu dengan menyehatkan jiwa mereka melalui pendekatan spiritual.

Hal ini tentunya bukan merupakan satu hal yang ‘baru’. Karena hal ini sudah dinyatakan dalam Al Qur’an dan pada prakteknya sudah dicontohkan secara kongkrit oleh Rasulullah saw 14 abad yang lalu.

Kesehatan yang hakiki agar dapat mencapai kebahagiaan yang hakiki, yaitu keseimbangan antara kesehatan jiwa dan jasad. Kebaikan dunia dan akhirat.

Tinggal yang menjadi persoalan adalah, apakah kita sudah memberikan suplemen makanan yang cukup untuk jiwa kita, jiwa, kita memerlukan cermin agar kita bisa melihat, di bagian manakah yang sakit pada jiwa kita. Ketika jasad memerlukan cermin yang berasal dari bumi, maka jiwa memerlukan cermin yang berasal dari langit, dan cermin itu, adalah Al Qur’an.

Bercerminlah dengan Al Qur’an untuk mengukur sejauh mana kesehatan jiwa kita. Hanya saja, tentunya, dalam prakteknya bercermin untuk memperbaiki jasad berbeda dengan bercermin untuk memperbaiki jiwa. Boleh jadi jiwa terasa tidak nyaman ketika sedang melihat pada cermin tersebut, sama seperti kita melihat bagian dari jasad kita yang tidak nyaman ketika kita mengetahui di mana tempat sakit itu berada.

Dan boleh jadi ketika jiwa yang sakit tersebut di obati, maka akan terasa pahit pada awalnya, tetapi sesungguhnya ia memberikan penyembuhan, dan hal inilah proses yang telah di ajarkan Allah, sebagaimana proses penyembuhan jasad kita.

Ketika kesadaran akan hal ini timbul dalam diri kita, maka kita akan segera mengetahui manakah yang lebih penting, memenuhi kebutuhan jasad kita atau jiwa kita.

Faktanya, banyak di antara mereka yang kebutuhan akan jasadnya (materil) sudah terpenuhi tetapi dalam kehidupannya mereka tidak bahagia, atau bahkan mereka hidup tersiksa,

Keseimbangan, adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan, dan tentunya, kita hanya akan melakukannya untuk jasad sesuai dengan proporsinya, sesuai dengan episodenya, karena nanti, jasad akan kembali ke bumi, hanya jiwalah yang akan melanjutkan perjalanannya. 

Dan untuk melakukan perjalanan, tentunya jiwa memerlukan bekal ‘ kesehatan’ yang cukup.

Sudahkah kita memiliki hal itu…?

Wallahu’alam.

subhanalloh...
umi suka dgn note ini...
semoga...
jiwa ini kembali kepada Alloh SWT dalam keadaan mengingat Alloh SWT, amin


No comments:

Post a Comment

Post a Comment